Sabtu Bersama Bapak the series ( Kesimpulan )
Sabtu Bersama Bapak The Series
Serial Sabtu Bersama Bapak ini adaptasi ulang/Remake dari novel dan film tahun 2016 dengan judul yang sama, serial ini tayang eksklusif di Prime Video. Kalau versi film lebih fokus pada kehidupan anak-anaknya, di serial ini fokus cerita lebih menonjolkan kisah perjuangan Gunawan (Vino G.Bastian) dan Itje (Marsha Timothy).
Serial ini mengeksplorasi cerita masa muda Gunawan, suka duka hidup, dan awal pertemuan dengan istrinya. Terdapat karakter tambahan seperti Tatang dan Engkus yang tidak ada di versi novel/film sebelumnya.
Disutradarai oleh Rako Prijanto dan ditulis langsung oleh penulis novelnya, Adhitya Mulya, sehingga ceritanya lebih luas.
Aku mau fokus ceritain dari karakter Gunawan ini yahh...
di awal seri ini episode pertama dan kedua sudah bikin aku sedih dan dapet banyak banget pesan moral disini, di kedua episode itu menampilkan perjuangan wawan (Vino G.Bastian) ngurusin ibunya yang divonis sakit stroke yang mana ibunya lumpuh tidak bisa bicara, berjalan, dan beraktifitas lagi seperti sebelumnya. Kang wawan ini juga karakter yang suka bantuin orang tanpa pamrih karena katanya kalau membantu orang lain diam-diam aja, biar amalnya ga berkurang.
Oiya kang wawan juga punya teman sekaligus tetangga yang masih sekolah namanya Engkus dan Tatang, mereka biasanya selalu minta bantuan kang wawan buat ngerjain PR mereka, tapi kang wawan maunya mereka berusaha mengerjakan sendiri supaya ngga males-malesan dan mereka juga selalu minta bantuan untuk diajarin oleh kang wawan supaya rangking mereka yang anjlok bisa naik.
Singkat cerita, kang wawan dipecat dari perusahaanya karena dia tidak masuk kerja/minta cuti selama seminggu lebih untuk ngurusin ibunya, kang wawan mulai cari pekerjaan baru untuk bisa membayar pengobatan ibunya yang sakit. Kang wawan juga meminta tolong pada Engkus dan Tatang untuk gantian menemani ibunya dirumah ketika Kang wawan tidak dirumah karena sedang melamar pekerjaan, sebagai gantinya dia akan mengajari Engkus dan Tatang belajar untuk persiapan ujiannya supaya rangkingnya naik dan bisa lolos seleksi perguruan tinggi negeri (PTN) pada masa itu.
Dan mereka berdualah yang selalu ada ketika si Kang Wawan ini sedang menjalani cobaan dalam hidupnya, mereka perhatian juga membantu kang wawan mencari lowongan pekerjaan yang ada di koran, dan menemani ibunya ketika wawan tidak dirumah.
Melanjutkan perjuangan Wawan (Gunawan muda), kita diperlihatkan sebuah realita yang menampar:
Di episode-episode selanjutnya, kita melihat bagaimana Wawan benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk sang Ibu. Meski tubuhnya lelah setelah seharian mencari kerja, ia tidak pernah absen memberikan perhatian penuh. Momen paling menguras air mata adalah ketika Wawan memilih untuk tidur di samping ibunya, menjaga setiap helai napas sang ibu di sisa waktunya.
Dalam lelapnya, Wawan bertemu sang Ibu dalam mimpi. Sebuah pertemuan spiritual yang indah, di mana sang Ibu yang selama ini sulit berkomunikasi karena stroke, akhirnya bisa tersenyum dan berucap, "Terima kasih ya, Wan, sudah merawat Ibu." Momen ini menjadi
pesan moral yang sangat kuat untuk kita semua:
Pesan Moral 1: Ridho orang tua adalah kunci ketenangan batin. Sekeras apa pun hidup menghantam Wawan (dipecat, kesulitan ekonomi, hingga kehilangan), ia tetap tegak karena ia tahu ia telah menunaikan tugas paling mulia dalam hidupnya: memuliakan ibunya.
Investasi Kebaikan pada Engkus dan Tatang
Kisah Wawan juga mengajarkan kita bahwa kebaikan adalah investasi yang selalu kembali tepat waktu. Ingat bagaimana Wawan dengan sabar membimbing Engkus dan Tatang belajar meski dia sendiri sedang dalam kondisi terhimpit?
Ketulusan Wawan mendidik mereka tanpa pamrih berbuah manis. Saat Wawan berada di titik terendah, justru kedua anak muda inilah yang menjadi "tangan kanan" Tuhan. Mereka tidak hanya membantu menjaga Ibu, tapi juga menjadi penyemangat Wawan untuk terus mencari lowongan di koran-koran. Ini membuktikan bahwa:
Pesan Moral 2: Jangan takut membantu orang lain diam-diam. Seperti prinsip Wawan, biarlah amalnya utuh tanpa harus dipamerkan, karena semesta punya cara sendiri untuk membalasnya melalui orang-orang tak terduga.
Rencana Manusia vs Ketetapan Tuhan
Satu hal yang paling membekas dari serial ini adalah bagaimana Wawan memandang hidup. Ia adalah sosok yang sangat terencana—kita tahu di masa depan ia menyiapkan banyak rekaman video untuk anak-anaknya—namun ia tetap rendah hati di hadapan takdir.
Salah satu kutipan yang paling ngena dan layak kita jadikan pedoman adalah:
"Manusia boleh berencana, manusia harus berusaha. Tapi tetep Allah yang Maha Tahu mana yang terbaik buat kita."
Kalimat ini bukan sekadar kata-kata manis, tapi hasil tempaan hidup Wawan yang penuh air mata. Melalui karakter ini, kita belajar bahwa:
Berusaha adalah kewajiban: Wawan tidak menyerah saat dipecat; ia terus mengetuk pintu-pintu pekerjaan baru.
Berserah adalah kekuatan: Menyadari bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari rencana kita akan membuat kita lebih tangguh menghadapi kegagalan.
Kesimpulannya, Sabtu Bersama Bapak The Series melalui karakter Gunawan bukan hanya tontonan tentang kesedihan, tapi tentang bagaimana seorang pria membentuk integritasnya melalui pengabdian dan kegigihan. Gunawan membuktikan bahwa menjadi "Bapak" yang hebat dimulai dari menjadi "Anak" yang luar biasa.
Komentar
Posting Komentar